Prof. Dr. H. Andi Mattulada: Inspirasi Sang Pionir Universitas Tadulako
www.penerbitmagama.com
Prof. Dr. H. Andi Mattulada adalah sosok yang tak hanya berperan sebagai tokoh akademik, tetapi juga sebagai pionir yang mengukir sejarah penting dalam dunia pendidikan di Sulawesi Tengah. Sebagai rektor pertama Universitas Tadulako (Untad), beliau memegang tongkat estafet kepemimpinan dengan penuh dedikasi selama dua periode dari tahun 1981 hingga 1990. Peran beliau tidak sekadar memimpin, tetapi juga membangun fondasi kokoh yang menjadi dasar keberhasilan dan kemajuan institusi ini hingga kini.
Prof. Dr. H. Andi Mattulada adalah sosok yang tak hanya meninggalkan jejak sebagai rektor pertama Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, tetapi juga sebagai simbol perjuangan, intelektual, dan budayawan yang menginspirasi banyak generasi. Mengemban amanah selama dua periode dari tahun 1981 hingga 1990, beliau telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam membangun fondasi pendidikan dan kebudayaan di wilayah ini.
Dilahirkan di Bulukumba pada 15 November 1928, Mattulada adalah seorang tokoh cendekiawan yang memadukan keahlian dalam bidang antropologi, sejarah, dan ilmu sosial. Sebelum mengukir sejarah di dunia akademik, perjalanan hidupnya dipenuhi oleh semangat juang yang mendalam. Ia pernah mengalami masa-masa pahit revolusi melawan penjajahan Belanda, bahkan nyaris menjadi korban pembantaian Westerling—kisah heroiknya menjadi bukti keberanian dan tekadnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan.
Setelah masa perjuangannya mereda, Mattulada kembali ke dunia pendidikan, mengabdi di berbagai bidang dari pengajaran hingga keamanan. Ia pernah aktif di Kepolisian RI dan menjadi kepala sekolah di SMA III Pangkerego serta SMA Negeri 1 Makassar. Pengalaman tersebut membentuk kepribadiannya yang kuat, penuh disiplin, dan berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia.
Kontribusi di Universitas Tadulako
Sebagai tokoh yang berperan penting dalam sejarah pendidikan Sulawesi Tengah, Prof. Mattulada dilantik pada 15 Agustus 1981 sebagai rektor pertama Untad setelah statusnya resmi menjadi perguruan tinggi negeri berdasarkan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1981. Di bawah kepemimpinannya, universitas ini mengalami perkembangan pesat dan stabil. Ia memimpin selama dua periode, dari 1981 hingga 1985 dan kemudian 1985 hingga 1990, dengan tekad kuat untuk memantapkan eksistensinya sebagai pusat pendidikan berkualitas.
Dalam masa awal kepemimpinannya, beliau memprakarsai pembangunan lima fakultas utama: FKIP, Pertanian, Hukum, FISIP, dan Ekonomi. Melalui visi dan strateginya, beliau memperluas jangkauan pendidikan dan meningkatkan kualitas akademik, menjadikan Untad sebagai lembaga pendidikan yang mampu bersaing dan berkontribusi secara nasional maupun internasional.
Selain itu, beliau juga memprakarsai pemindahan sebagian aktivitas perkuliahan ke kawasan Kelurahan Tondo yang kemudian dikenal berjuluk Bumi Kaktus pada tahun akademik 1985/1986, sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah mahasiswa. Langkah ini menunjukkan kepekaannya terhadap kebutuhan mahasiswa dan keberlanjutan pengembangan institusi.
Karya Intelektual dan Warisan Budaya
Prof. Mattulada dikenal luas sebagai ilmuwan sosial dan budaya yang karya tulisnya mendunia. Buku-bukunya seperti Latoa dan Mencari Bugis di Asia Tenggara menjadi referensi penting dalam studi kebudayaan Bugis-Makassar. Ia mengangkat dan melestarikan warisan budaya daerah melalui karya-karyanya, sekaligus memperkaya khazanah keilmuan nasional.
Selain sebagai akademisi, beliau juga aktif sebagai budayawan dan pernah menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Makassar (DKM). Semangatnya untuk memajukan seni dan budaya tak pernah padam, bahkan di hari-harinya yang terakhir, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membaca buku dan menulis bersama istrinya, A Ressang, serta menikmati kebiasaan berpuasa setiap Senin-Kamis sebagai bentuk penguatan spiritual.
Warisan dan Kehidupan Pribadi
Selain dedikasi di dunia akademik dan budaya, Mattulada adalah sosok yang rendah hati dan penuh kasih sayang. Ia meninggalkan seorang putri, Drg. Indria Kirana, yang meneruskan semangat keilmuannya. Kehidupan pribadinya diwarnai oleh kebiasaan sederhana dan pengabdian terhadap keluarga dan masyarakat.
Penghargaan atas jasa-jasanya diabadikan melalui penamaan Aula Mattulada di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin dan Perpustakaan Mattulada di Gedung Rektorat Unhas Makassar. Warisan intelektual dan moralnya terus menginspirasi generasi muda untuk berbakti kepada bangsa dan tanah air.
Akhir Hayat dan Legasi Abadi
Prof. Dr. H. Andi Mattulada meninggal dunia pada 12 Oktober 2000. Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar di dunia pendidikan dan budaya Sulawesi Selatan dan Tengah. Namun, semangat juang, karya-karya ilmiahnya, dan dedikasinya dalam membangun bangsa tetap hidup dan mengilhami banyak orang.
Sebagai sosok yang berhasil menyatukan keberanian, kecerdasan, dan kepekaan budaya, Prof. Mattulada adalah contoh nyata bahwa pendidikan dan cinta tanah air adalah jalan untuk mencapai kemajuan dan keadilan sosial.
Litbang Penerbit Magama, diolah dari berbagai sumber.


Posting Komentar
0 Komentar