GURU TUA: INSPIRASI LINTAS LAUTAN
Kita pasti setuju bahwa Indonesia memiliki banyak pahlawan yang luar biasa. Tapi, pernahkah kalian mendengar tentang Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, sang ulama besar keturunan Hadhrami yang dikenal sebagai Guru Tua? Ia adalah sosok yang tidak hanya berjasa besar dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi Tengah, tetapi juga menjadi simbol semangat perjuangan melalui pendidikan. Yuk, kita kenali lebih dekat sosok inspiratif ini dan mengapa namanya layak diabadikan sebagai pahlawan nasional!
www.penerbitmagama.com
Guru Tua lahir di Tarim, Hadhramaut, Yaman, pada 15 Maret 1892. Ayahnya, Habib Salim Aljufri, adalah seorang ulama besar dan tokoh agama yang dihormati di Hadhramaut. Sejak kecil, Sayyid Idrus sudah diajarkan ilmu agama secara mendalam oleh ayahnya. Dengan ketekunan dan kecerdasannya, ia menjadi ulama yang alim dan ahli di berbagai bidang ilmu keislaman. Dari tanah kelahirannya, ia menapak jejak ke dunia yang lebih luas.
Hijrah ke Nusantara: Menyatukan Dunia dan Menebar Ilmu
Perjalanan hidupnya tidak berhenti di situ. Ia datang ke Nusantara dalam dua tahap, pertama bersama ayahnya saat masih muda, lalu kembali lagi antara tahun 1926 sampai 1929. Di tanah Nusantara, ia menjelajahi berbagai daerah, mulai dari Pulau Jawa seperti Batavia, Solo, hingga Pekalongan. Di sana, ia bertemu dan belajar dari tokoh-tokoh besar Islam seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari. Pengalaman ini membuka wawasan dan memperkuat tekadnya untuk berkontribusi lebih besar.
Akhirnya, Guru Tua memutuskan menetap di Palu, Sulawesi Tengah. Di tempat ini, ia dipanggil untuk mengembangkan pendidikan Islam dan membangkitkan semangat keilmuan masyarakat setempat. Dengan tekad kuat dan penuh kasih, ia mendirikan Perguruan Alkhairaat pada tahun 1930, sebuah organisasi pendidikan Islam yang kemudian menjadi salah satu terbesar di Indonesia Timur.
Jasa dan Perjuangan yang Menginspirasi
Tidak hanya sebatas mendirikan sekolah, Guru Tua mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan agama. Ia membimbing ribuan santri dan membina masyarakat di berbagai daerah. Ia percaya bahwa ilmu adalah kekuatan yang mampu mengubah nasib bangsa. Selain itu, ia juga berjuang melawan penjajahan dengan mengobarkan semangat kebangsaan melalui dakwah dan pendidikan.
Sikap kedermawanannya pun sangat terkenal. Ia berbagi ilmu dan rezeki tanpa pamrih, demi kemajuan umat dan bangsa. Semangatnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan membuatnya dihormati oleh masyarakat khususnya di Sulawesi Tengah dan di Indonesia Timur pada umumnya.
Penghargaan dan Warisan yang Abadi
Pengabdian Guru Tua tidak pernah terlupakan. Di Sulawesi Tengah, namanya dihormati sebagai tokoh pendidikan dan dakwah yang luar biasa. Bahkan, Bandara Mutiara Palu diubah menjadi Bandara Mutiara SIS Al-Jufri sebagai bentuk penghormatan. Ia terus diusulkan sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya yang besar dalam membangun keilmuan dan semangat perjuangan di Indonesia Timur.
Kisah hidup Guru Tua mengajarkan kita bahwa keberanian, keilmuan, dan semangat perjuangan bisa mengubah dunia. Ia adalah sosok yang pantas menjadi inspirasi generasi muda untuk terus belajar, berjuang, dan berbakti kepada bangsa dan agama.
Maka, mari kita bangga dan teruskan perjuangan para pahlawan seperti Sayyid Idrus bin Salim Aljufri. Dengan meneladani semangat dan pengorbanannya, kita bisa menjadi generasi yang bermanfaat dan membanggakan bangsa Indonesia. Jangan lupa, ilmu dan perjuangan tak pernah sia-sia—karena dari sanalah masa depan bangsa kita dibangun!
Litbang Penerbit Magama
Diolah dari berbagai sumber


Posting Komentar
0 Komentar