Modero: Tarian Rakyat Simbol Kebersamaan dari Tanah Sulawesi
Di tengah hamparan tanah Sulawesi yang subur dan penuh warna, tersembunyi sebuah warisan budaya yang memancarkan kehangatan dan kekuatan kebersamaan: Budaya Modero. Sebuah tarian tradisional massal yang tidak sekadar gerakan dan nyanyian, melainkan sebuah metafora hidup tentang persatuan, rasa syukur, dan kebersamaan yang mengikat masyarakat dari berbagai latar belakang dan usia.
Di sebuah lingkaran besar terbentuk di tengah desa, tangan-tangan saling berpegangan erat, menyatu menjadi satu kesatuan yang harmonis. Gerakannya sederhana—hanya mengikuti irama musik yang mengalun lembut—tapi maknanya dalam dan mendalam. Musik tradisional seperti lalove, geso-geso, ganda, dan gongi menjadi nyawa yang menyatukan langkah, sementara pantun-pantun yang dinyanyikan secara bergantian membangun suasana keakraban dan saling menghormati. Di sini, setiap gerakan, setiap nyanyian, adalah cermin dari kehidupan masyarakat: saling mendukung, bergandengan tangan dalam suka maupun duka.
Dalam tradisi masyarakat Sulawesi Tengah (Suku Kaili, Suku Bare’e dan Pamona) maupun Sulawesi Tenggara (Etnis Muna), Modero bukan sekadar tarian. Ia adalah simbol perdamaian dan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Di saat panen raya, di hari pernikahan, atau saat acara adat lainnya, tarian ini dihidupkan kembali sebagai momen sakral yang mempererat tali silaturahmi dan memperkuat identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ciri khas dari Modero terletak pada gerakannya yang bersahaja namun sarat makna. Pesertanya tidak memandang usia, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda—semuanya terlibat tanpa terkecuali. Mereka menampilkan keindahan dalam kesederhanaan, menunjukkan bahwa kebersamaan dan kekeluargaan adalah kekayaan yang tak ternilai. Ketika tangan-tangan itu saling berpegangan, mereka menyampaikan pesan bahwa dalam kebersamaan, terdapat kekuatan untuk menghadapi segala tantangan hidup.
Adapun variasi dari Modero menyesuaikan tempat dan budaya setempat. Di Sulawesi Tengah, dikenal sebagai Tari Dero, sering dipentaskan sebagai simbol perdamaian dan rasa syukur atas hasil bumi. Di Sulawesi Tenggara, dikenal sebagai Kabhanti Modero, yang menonjolkan keindahan balasan pantun secara berpasangan, menambah kehangatan dan keintiman dalam setiap langkahnya. Di Kota Palu, populer dengan sebutan Badero, akrab terutama di kalangan muda-mudi dan diselenggarakan sebagai bagian dari kemeriahan pesta. Meski berbeda nuansa, semangat persatuan tetap menjadi inti dari setiap penampilan.
Seiring berjalannya waktu, Modero tidak berhenti di panggung adat. Ia berkembang menjadi bagian dari budaya pop yang lebih luas, tampil di festival, destinasi wisata, bahkan menjadi ajang mencari pasangan. Namun, di balik geliat modernisasi ini, kekhawatiran tentang hilangnya makna asli tetap ada. Sebagaimana yang diungkapkan oleh sejumlah pengamat, kekayaan nilai kebersamaan dan rasa syukur harus tetap dijaga agar tidak terkikis oleh arus zaman yang semakin cepat.
Dalam setiap gerak dan nyanyian Modero, tersimpan sebuah pesan abadi: bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kebersamaan dan saling pengertian. Melalui tarian ini, masyarakat Sulawesi Tengah dan Tenggara menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi yang menghidupkan rasa kekeluargaan dan persahabatan di tengah kehidupan modern. Sebuah metafora hidup yang mengajarkan kita bahwa dalam bersatu, kita mampu menghadirkan keindahan, kedamaian, dan rasa kebersamaan.
Litbang Penerbit Magama, diolah dari berbagai sumber.
Foto: Medcom.id


Posting Komentar
0 Komentar