KARAJALEMBAH: LAMBANG PERJUANGAN RAKYAT SIGI MELAWAN KOLONIALISME BELANDA
Di tengah hamparan lembah hijau dan pegunungan yang menjulang tinggi di Sigi, Sulawesi Tengah, kisah seorang pahlawan rakyat menyala sebagai inspirasi perjuangan dan simbol keberanian.
www.penerbitmagama.com
Dialah Toma I Dompo, yang dikenal luas sebagai Karajalembah atau Karanja Lembah, sosok yang mengukir sejarah sebagai Raja Sigi yang gigih menentang kekuasaan Hindia Belanda di awal abad ke-20. Perjuangannya tidak hanya sekadar perlawanan militer, melainkan juga sebuah simbol semangat nasionalisme dan keberanian rakyat dalam melawan penjajahan.
Lahir pada tahun 1852 di Biromaru, Toma I Dompo menunjukkan keberanian dan kepemimpinannya sejak muda. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani dan penuh semangat, yang kemudian diangkat menjadi Raja Sigi. Pada masa itu, kolonial Belanda menerapkan politik "Plakat Pendek" yang memaksa raja-raja di Nusantara, termasuk di Sigi, untuk mengakui kekuasaan mereka. Penolakan keras terhadap kebijakan ini menjadi salah satu alasan utama Karajalembah memimpin perlawanan yang gigih.
Perlawanan tersebut mencapai puncaknya dalam Perang Sigi-Dolo, sebuah rangkaian pertempuran terbuka yang berlangsung di lembah Palu. Pada tahun 1904, pertempuran besar terjadi menunjukkan keberanian rakyat Sigi yang melawan upaya Belanda untuk menguasai wilayah mereka. Terjadi perang di berbagai tempat termasuk Vatunonju pada tahun 1905, di mana rakyat Sigi, dipimpin oleh Karajalembah, menunjukkan tekad yang bulat untuk mempertahankan tanah mereka dari penjajahan.
Namun, perjuangannya tidak berlangsung tanpa risiko. Pada tahun 1905, Karajalembah akhirnya ditangkap oleh pasukan kolonial Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Sukabumi pada tahun 1915, jauh dari tanah kelahirannya. Meski berada di pengasingan, semangat perjuangannya tetap hidup dan memicu perlawanan lanjutan di wilayah Sigi dan sekitarnya. Perang Lando dan Perang Bora adalah contoh perlawanan yang terus berkobar sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya dan semangat rakyat yang tak kenal menyerah.
Warisan Karajalembah tidak hanya berhenti pada keberanian di medan perang. Ia diajukan sebagai tokoh nasional yang layak mendapatkan penghargaan tertinggi atas patriotisme dan perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda. Usulan agar namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional terus bergulir dan mendapatkan perhatian. Makamnya yang terletak di Watunonju, Sigi, kini menjadi Situs Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah, sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya dalam menentang kolonialisme.
Selain itu, jejak perjuangannya terus dikenang melalui penamaan jalan di Palu dan Sigi dengan nama Jalan Karanjalembah. Melalui jalan-jalan ini, masyarakat mengingat dan menghormati keberanian seorang raja yang memilih berjuang demi tanah airnya. Pada tahun 2006, jenazah Karajalembah dipindahkan dari Sukabumi ke Watunonju agar lebih mudah dirawat dan tetap dikenang sebagai pahlawan rakyat.

Karajalembah bukan hanya sekadar nama seorang tokoh sejarah. Ia adalah simbol perlawanan rakyat Sigi terhadap kolonialisme yang penuh semangat dan keberanian. Kisah hidupnya mengajarkan nilai keberanian, patriotisme, dan keteguhan hati dalam memperjuangkan hak dan kemerdekaan bangsa. Hingga hari ini, nama dan perjuangannya terus menjadi inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat luas, menegaskan bahwa semangat perlawanan dan cinta tanah air tidak pernah pudar, bahkan di tengah zaman yang terus berubah.
Masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Sigi memberikan penghormatan dan pengakuan tersebut. Karajalembah tetap hidup dalam sejarah dan hati rakyat Sulawesi Tengah sebagai pahlawan yang tak ternilai. Ia adalah lambang perlawanan rakyat terhadap penjajahan dan simbol perjuangan menuju kemerdekaan yang hakiki.
Litbang Penerbit Magama, diolah dari berbagai sumber.
Foto: Republika


Posting Komentar
0 Komentar